PROFIL PRANATA SOSIAL DI DAERAH KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (Studi Kehidupan Sosial Budaya di Provinsi Nusa Tenggara Timur)

Abstract

Pranata sosial adalah kumpulan nilai dan norma yang mengatur kehidupan manusia. Kebudayaan yang didalamnya terdapat nilai, norma dan perasaan juga merupakan pola bagi tindakan dan tingkah laku manusia yang diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan yang nyata, kebudayaan digunakan secara selektif oleh para pendukungnya, tergantung pada situasi dan kondisi, serta arena sosial tempat para pendukung kebudayaan tersebut melakukan kegiatannya. Pengetahuan yang kompleks bagi kegiatan tertentu tersebut dikenal sebagai pranata-pranata kebudayaan atau cultural institutions.Pendekatan yang digunakan dalam studi sosial budaya adalah pendekatan kebudayaan yang dalam ilmu antropologi digolongkan sebagai pendekatan Ethnoscience atau cognitive anthropology. Dalam pendekatan semacam ini warga masyarakat terasing yang menjadi sasaran studi sosial budaya akan dilihat sebagai individu-individu yang aktif memahami, memanipulasi atau memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada di lingkungan hidup sosialnya dengan cara menggunakan dan berpedoman pada kebudayaanyang dimilikinya, agar supaya mereka tetap dapat mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan hidupnya (Achadiyat, 1994). Dengan demikian pranata sosial memiliki status dan peran, peran disini berujud aturan yang berlalu untuk mengatur tingkah laku manusia dalam bertindak, dimana dalam setiap tindakan selalu dilakukan berdasarkan pertimbangan norma dan nilai yang hidup. Pranata sosial bersifat non formal karena tidak memiliki struktur aturan yang tidak tertulis, terbentuk karena kesepakatan kebutuhan suatu komunitas dan diakui keberadaannya dan dipertahankan pada komunitas tertentu.Dari hasil kajian diketahui bahwa pengaruh kepala adat (Raja Biboki) di Kampung Tamkesi sangat kuat. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya kesetiaan rakyatnya terhadap berbagai pranata yang masih berlaku di masyarakat pedalaman terutama di kampung adat Tamkesi wilayah desa Tautpah, pranata tersebut antara lain; Pranata keagamaan atau kepercayaan, pranata pendidikan, pranata ekonomi, pranata sosial dan pranata keturunan. Namun karena Raja Biboki memiliki wawasan yang luas dan menginginkan adanya perubahan kehidupan bagi rakyatnya, dengan cara mereka menyerahkan sebagian wilayahnya untuk dijadikan sebagai sarana program pemberdayaan yang dimulai melalui program pemukiman di Kampung Tautpah. Tujuan Raja Biboki tersebut adalah dengan berhasilnya program pemberdayaan yang dilakukan Pemerintah diharapkan budaya masyarakat pedalaman yang masih bermukim di hutan-hutan pedalaman wilayah desa Tautpah dan desa Tokbesi bisa merobah sebagian adat kebiasaan yang ada kearahkehidupan yang lebih baik. Secara rinci terdeskripsi dalam hasil penelitian ini.
https://doi.org/10.33007/ska.v11i3.604
PDF

Policy for Journals that offer open acces

Authors who publish with this journal agree to the following terms:

  • Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal
  • Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal
  • Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
  •