KARAKTERISTIK KEPALA RUMAH TANGGA PEREMPUAN DALAM PEKERJAAN SEKTOR INFORMAL

Main Article Content

Dodi Satriawan

Abstract

Persentase rumah tangga yang dikepalai perempuan cenderung meningkat dari tahun ke tahun, di mana pada tahun 2012 persentase rumah tangga yang dikepalai perempuan mencapai 14,4 persen. Kajian literatur ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik Kepala Rumah Tangga Laki-laki (KRTL) dan Kepala Rumah Tangga Perempuan (KRTP) yang bekerja di sektor informal berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Agustus tahun 2017-2019. Berdasarkan hasil kajian diketahui bahwa dari total pekerja di sektor informal didapatkan karakteristik yang dapat membedakan antara KRTL maupun KRTP. Pada KRTL didominasi pekerja dengan status kawin, bekerja di lapangan usaha pertanian, jam kerja cukup (>=35 jam), memiliki penghasilan rendah, pendidikan tamat SD, berada pada kelompok umur yang lumayan muda yaitu 30-49 tahun. Sedangkan KRTP didominasi pekerja dengan status perkawinan cerai mati, bekerja di lapangan usaha perdagangan, kekurangan jam kerja (<35 jam), memiliki penghasilan rendah, pendidikan tidak tamat SD, dan berada pada kelompok umur tua yaitu 50-64 tahun. Berdasarkan karakteristik tersebut, pemerintah dapat memberikan pembinaan dan pemberian fasilitas serta bantuan permodalan kepada pekerja sektor informal terutama pada KRTL maupun KRTP yang bersifat produktif, bekerja pada sektor pertanian dan perdagangan, memiliki tingkat pendidikan yang rendah, serta mereka yang bekerja dengan jam kerja yang tinggi dalam rangka meningkatkan taraf hidup baik KRTL maupun KRTP serta keluarganya. Selain itu adanya perhatian dari pemerintah diharapkan dapat menggeser status mereka dari yang awalnya bekerja dalam sektor informal secara perlahan namun pasti dapat masuk ke dalam sektor formal.

Article Details

Section
Articles

References

BPS. (2019). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Agustus 2019. Jakarta: BPS.

Cendrawati, N. K. (2000). Analisis Pengangguran di Indonesia Berdasarkan Data Sakerti 1993 (Tesis). Depok: Program Pascasarjana Kajian Kependudukan dan Ketenagakerjaan Universitas Indonesia.

Dzikri, A.F.M. & Muhammad, S. (2014). Studi Fenomenologi Perempuan Miskin Kota Sebagai Tulang Punggung Keluarga. Jurnal Penelitian Psikologi, 2(3), 56-65.

Ehrenberg, R.G. & Smith, R.S. (1994). Modern Labor Economics, 11th Edition. New York: Harper Collins.

Erma, Y. S. (2016). Peran Wanita Sebagai Kepala Keluarga dalam Melaksanakan Fungsi Keluarga di Kelurahan Sungai Merdeka Kecamatan Samboja. Jurnal Sosiantri-sosiologi, 4(2), 212-226.

Ernawati. (2013). Menyibak Perempuan Kepala Keluarga. Jurnal Muwazah, 5(2), 1-9.

Firdausy, C. M. (1995). Model dan Kebijakan Pengembangan Sektor Informal Pedagang Kaki Lima, Pengembangan Sektor Informal Pedagang Kaki Lima di Perkotaan. Jakarta: Dewan Riset Nasional dan Bappenas Puslitbang Ekonomi dan Pembangunan LIPI.

Handayani, M. T. (2017). Karakteristik Dinamis Peran Ganda Pekerja Wanita di Sektor Informal. Jurnal Agrineca, 17(1), 13-24.

Herfina, D. (2009). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengangguran Terselubung Di Perdesaan Jawa Tengah Analisis Data Sakernas 2007. Jurnal Kependudukan Indonesia, 4(1), 15-32.

International Labour Organization. (2003). 17th International Conference of Labour Statisticians. Geneva: ILO. Retrieved from https://www.ilo.org/global/statistics-and-databases/meetings-and events/international-conference-of-labour-statisticians/WCMS_087565/lang--en/index.htm.

Isti’any, N. N. & Pitoyo, A. J. (2016). Pekerja Perempuan dalam Sektor Informal di Daerah Istimewa Yogyakarta Analisis Faktor Pengaruh Berdasarkan Susenas Kor 2014. Jurnal Bumi Indonesia, 5(4), 1-8.

Lockley, Anne, A. B. & Julia, T. (2013). Gender Analysis of Indonesia Poverty Data. Jakarta: Policy Working Paper TNP2K.

Manning, C., Tadjuddin N. E. & Tukiran. (1984). Struktur Pekerjaan, Sektor Informal, dan Kemiskinan di Kota. Sebuah Studi Kasus di Diraprajan, Yogyakarta. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukn UGM Yogyakarta.

Marhaeni. (2015). Kajian Setengah Pengangguran Dari Segi Jam Kerja Dan Penghasilan Menurut Karakteristik Pekerja Di Kabupaten Badung. Bali: Laporan Penelitian Unggulan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana.

Pitoyo, A. J. (2007). Dinamika Sektor Informal di Indonesia. Prospek, Perkembangan, dan Kedudukannya dalam Sistem Ekonomi Makro. Jurnal Populasi, 18(2), 129-146.

Rachbini, D. J. & Hamid, A. (1994). Ekonomi Informal Perkotaan: Gejala Involusi Gelombang Kedua. Jakarta: LP3ES.

Seknas Pekka. (2014). Menguak Keberadaan Dan Kehidupan Perempuan Kepala Keluarga. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

Sethuraman, S. V., Manning, C. & Effendi, T.N. (1991). Sektor Informal di Negara Sedang Berkembang. Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 31 Ayat 3 Tentang Perkawinan.

Wibawa, R. P. & Wihartanti, L. V. (2018). Strategi Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Dalam Menciptakan Kemandirian Ekonomi Keluarga di Desa Gesi Kecamatan Gesi Kabupaten Sragen. Jurnal Promosi, 6(2), 57-62.

Yusrina, A. (2013). Apakah Kepala Rumah Tangga Perempuan Lebih Miskin daripada Kepala Rumah Tangga Laki-Laki?. Jakarta: SMERU.