Vol. 10 No. 3 (2021): Sosio Konsepsia
Articles

Dampak Perceraian Keluarga Suku Rote Thie Terhadap Anak-Anak Mereka Di Desa Tanah Merah Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur

Hotlif Arkilaus Nope
Prodi Sosiologi Fisip Undana

Published 2021-09-14

Abstract

Abstract: Tingkat perceraian pasangan suami istri di Indonesia terus merangkak naik, bahkan per Agustus 2020 jumlahnya sudah mencapai 306.688 kasus sehingga berdampak langsung terhadap anak-anak dari keluarga yang bercerai, khususnya pada anak dari Suku Rote Thie di Desa Tanah Merah Kabupaten Kupang. Pada tahun 2019 angka perceraian di Kabupaten Kupang masih tinggi dengan jumlah 92 kasus. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, validitas data diuji mengggunakan teknik triangulasi dan teknik analisis data model interaktif dari Miles dan Huberman (1992). Hasil temuan diketahui bahwa bahwa dampak perceraian orangtua dari keluarga suku Rote Thie terhadap anak di Desa Tanah Merah Kabupaten Kupang dari sisi hukum terkait dengan status hubungan suami-istri, dampak sosiologis menyangkut interaksi sosial dengan orangtua dan penerimaan keluarga besar dari kedua belah pihak terhadap mereka, serta jarak sosial dalam interkasi sosial dengan masyarakat dan komunitas sosial, dampak ekonomi dimana kebutuhannya relatif tidak terpenuhi dan dampak psikologis dimana anak-anak korban perceraian keluarga Suku Rote Thie di Desa Tanah Merah cenderung mengalami perasaan tidak menentu karena anak-anak ini hidup dalam pergunjingan masyarakat sekitar. Kata kunci: Perceraian; Anak; Dampak  

References

  1. Abercrombie, Nicholas, ect. (2010). Kamus Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  2. Aditiya, Awaludin, Muhtadi, Muhtadi (2017) Penguatan Modal Sosial Dalam Program Pelatihan Keterampilan Kepada Anak Berhadapan Dengan Hukum (Abh) Di Panti Sosial Marsudi Putra (Psmp) Handayani Bambu Apus Jakarta Timur. http://ejournal.kemsos.go.id/index.php/SosioKonsepsia/article/view/1128.Diakses Selasa 20 Oktober 2020. Pukul 13.43 Wita
  3. Aï¬ï¬, T. D., McManus, T., Hutchinson, S., & Baker, B. (2007). Inappropriate Parental Divorce Disclosures, the Factors that Prompt them, and their Impact on Parents’ and Adolescents’ Well-Being. Communication Monographs, 74(1), 78–102. Retrieved fromhttps://doi.org/10.1080/03637750701196870
  4. Amato, P.R., & Keith, B. (1991). Parental divorce and adult well being: A meta-analysis. Journal of Marriage and the Family, 53(1), 43-58.
  5. Arsosroatmojo. (1978). Hukum Perkawinan di Indonesia,. Jakarta: Bulan Bintang
  6. Bonar Hutapea (2011). Dinamika Penyesuaian Suami–Istri Dalam Perkawinan Berbeda Agama. https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/SosioKonsepsia/article/view/795/393
  7. Bonar Hutapea (2017) Kajian Sintesis Hasil Penelitian Selektif Tentang Dimensi Sosiopsikologis Anak Jalanan. https://Ejournal.Kemsos.Go.Id/Index.Php/Sosiokonsepsia/Article/Download/821/419. Diakses Selasa 20 Oktober 2020. Pukul 14.04 Wita
  8. Borgatta, Edgar F. & Marie L. Borgatta. (1992) Encyclopedia of Sociology Volume 1. Simon & Schuster Macmillan: New York.
  9. Brym, Roberth, and Lie John. (2007). Sociology,Your Compass for a New World, Belmont USA, Thomson Wadsworth.
  10. Buchanan, C. M., Maccoby, E. E., & Dornbusch, S. M. (1991). Caught between parents: Adolescents' experience in divorced homes. Child Development, 62(5), 1008–1029.
  11. Creswell, John W, (2010). Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Terjemahan Achmad Fawaid, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
  12. Dagun, M. S. (2002). Psikologi Keluarga. Jakarta:Rineka Cipta.
  13. Duvall, E. M & Miller, C. M. (1985). Marriage and Family Development 6th ed. New York: Harper & Row Publisher.
  14. Euis Naya Sari (2017) Pengaruh Status Perkawinan Dan Kondisi Ekonomi Rumah Tangga Terhadap Kemiskinan Anak Di Provinsi Banten Tahun 2017. https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/jpks/article/view/1576. Diakses Senin 19 Oktober 2020. Pukul 19:38 Wita
  15. Goode, William J. (1991). Sosiologi Keluarga. Jakarta:Bina Aksara.
  16. Gymanastiar Abdullah. (2006). Sakinah Manajemen Qalbu Untuk Keluarga. Bandung:Hhas MQ
  17. https://ntt.kemenag.go.id/berita/513708/kemenag--bp4-perkuat-sinergi-tekan-angka-perceraian
  18. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/893. Diakses Minggu 18 Oktober 2020. Pukul 10.03 Wita
  19. https://ntt.bps.go.id/statictable/2020/09/09/774/jumlah-perceraian-menurut-faktor-2019.html. Diakses Minggu 18 Oktober 2020. Pukul 10.27 Wita
  20. Hadikusuma, Hilman H. (2003), Hukum Perkawinan Adat dengan Adat Istiadat dan Upacara Adatnya. Bandung, PT Citra Aditiya Bakti.
  21. Hadikusuma, Hilman (1990). Hukum Perkawinan Indonesia, Bandung:Mandar. Maju
  22. Haning, Paul A. (2006). Hukum Kekeluargaan (Perkawinan dan Waris) Masyarakat Rote. Kupang:Kairos
  23. Harold, G. T., & Sellers, R. (2018). Annual research review: Interparental conflict and youth psychopathology: An evidence review and practice focused update. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 59(4), 374–402. Retrieved from http://ovidsp.ovid. com/ovidweb.cgi. Diakses Selasa 20 Oktober 2020. Pukul 17.19 Wita
  24. Horton, Paul B (1984) Sosiologi, jilid 2, Alih Bahasa Aminudin Ram, Jakarta:Erlangga.
  25. Jan Stokkebekka, Anette Christine Iversenb, Ragnhild Hollekimb, Ottar Nessc (2019). “Keeping balance†,“Keeping distance†and “Keeping on with lifeâ€: Childpositions in divorced families with prolonged conflicts. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2019.04.021. Diakses Senin 19 Oktober 2020. Pukul 21.43 Wita
  26. Karim Erna. (1999) Dalam Ihromi, Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
  27. Lorås, L. (2018). Systemic family therapy competences in child and adolescent mental health care. Contemporary Family Therapy, 40(1), 1–9. https://doi.org/10.1007/ s10591-017-9440-z.Diakses Senin 19 Oktober 2020. Pukul 21.56 Wita
  28. Macionis, J. J. (2004). Sociology: Sixth edition. New Jersey, Prentice Hall, Upper Saddle River.
  29. Marshall, Gordon (1998) Dictionary of Sociology, New York, Oxford University Press.
  30. Miles, Mattew B, dan Huberman, A. Michael (1992) Analisis Data Kualitatif, diterjemahkan oleh Tjejep Rohendi Rohini. Jakarta:Universitas Indonesia Press.
  31. Nurwijaya, Hartati. (2011). Mencegah Selingkuh dan Cerai. Jakarta:Elex Media.
  32. Oiladang, Chris S (2014) Bahan Ajar Sosiologi Keluarga, Kupang, Jurusan Sosiologi–Fisip Undana
  33. Piet Go O. Carm. (1990). Hukum Perkawinan Gereja Katolik Teks Dan Komentar, Malang: Dioma.
  34. Raho Bernard. (2003). Keluarga Berziarah Lintas Jaman, Suatu Tinjauan Sosiologis. Cetakan I. Flores:Nusa Indah.
  35. Robby Darwis Nasution (2018)Upaya Pemerintah Dalam Penanggulangan Perceraian Di Kabupaten Ponorogo. https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/jpks/article/download/1610/903. Diakses Senin 19 Oktober 2020. Pukul 19:44 Wita
  36. Sajogyo, P. (1983). Peranan Wanita dalam Perkembangan Masyarakat. Desa.Jakarta:Rajawali-Press.
  37. Sanderson, Stephen K (2000) Makro Soiologi, Sebuah Pendekatan Realitas Sosial,Diterjemahkan oleh Hotman M. Siahaan, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.
  38. Subadio Marai Ulfah dan Ihromi (1983) (editor), Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  39. Sumiarni Endang (2004) Kedudukan Suami Isteri Dalam Hukum Perkawinan (Kajian Kesetaraan Jender Melalui Perjanjian Kawin), Jogyakarta: Jalasutra
  40. Wallerstein, J. S., & Lewis, J. M. (2004). The unexpected legacy of divorce: Report of a 25- year study. Psychoanalytic Psychology, 21(3), 353-370.
  41. Wijanarko, Jarot (2017) Pemulihan Pria Sejati Dan Wanita Bijak, Jogjakarta. ANDI.
  42. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974.